Senin, 09 Juli 2012

My Story

Dulu, ini sekolahku Boarding School. Angkatan ku adalah angkatan 15 yang bernama Unida La Victoria atau biasa kami sebut ULV. Mungkin aku terlalu cepat memutuskan untuk bersekolah di Boarding School ini. Sekolah yang sejuk tepatnya berada di Kaki Gunung Salak. Sekolah ini berfasilitas canggih. Aku masuk sekolah berasrama ini pada tangga 17 Juli 2011. Disambut dengan sambutan hangat oleh teman-teman se-angkatan ku. Tapi mungkin, ini hanya berjalan sementara. Beberapa minggu kemudian, tepatnya di bulan suci Ramadhan aku di sidangi besar oleh teman se-angkatanku sendiri, tepatnya 12 orang. Aku dikucilkan dan di jatuh kan harga diri yang aku punya. Aku tak ingin menangis disana, aku marah. Tapi aku tidak ingin mengeluarkan emosiku. Aku diam, tidak menjawab. Setelah sidang itu selesai, aku menjadi orang yang lebih tertutup, tepatnya SANGAT tertutp. Sejak saat itu pula, aku jadi jarang berbaur dengan mereka. Mungkin kami sering mengatakan bahwa angkatan kami sudah 'KOMPAK' memang begitu diluarnya, tapi di dalam, kita punya rasa benci satu sama lain. Aku di sidang lagi dan entah itu kapan. Aku di suruh berbaur dengan 'mereka' dan tidak usah terlalu menutup diri. Tapi, aku tetap akan menutup diri. Aku mulai berbaur dengan mereka, dan pada saat sedang ditengah-tengah perbauran, terjadi sidang itu lagi. Aku dipanggil dan di nasehati ini itu. Aku masih ingat kata-kata mereka tapi aku tidak mau menyebutkannya. Sejak itu, aku TIDAK PERNAH berbaur lagi dengan mereka. Hati ku sakit, perih. Memang ragaku bersama mereka, tapi jiwaku ada di kamar, sedang menatap masamnya dunia. Tibalah saat English Contest, mau tidak mau aku harus berbaur dengan mereka. Aku meminjam gitar temanku, dan aku disuruhnya untuk mengembalikan gitarnya ke kamar 219. Ku tarh gitar itu dikamar tersebut dan aku pergi keluar untuk mulai latihan lagi. Esoknya, aku difitnah telah menghilangkan gitar yang kupinjam tersebut. Aku diam saja karena aku memang tidak bersalah. Sejak itu, aku makin pendiam. Pulang sekolah aku hanya pergi ke kamar dan membaca buku. Hanya itu, tidak ada kegiatan lain. Aku berniat untuk mengakhiri hidup saat hampir tiba kegiatan ALPHASEISMIC. Tapi aku tidak jadi mengakhiri hidupku, karena aku masih TAKUT. Saat tiba dimana kunjungan setelah kegiatan ALPHASEISMIC barulah aku bisa bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah selama ini. Alhamdulillah, aku dibolehkan pindah oleh kedua orangtuaku. Saat membuat tugas musikalisasi puisi aku kaget dengan perkataan teman-temanku. Mereka berkata "Q**, gitarmu dipinjam kak ***? Belum dibalikin ya?" Tanya seorang teman. Aku kaget, hatiku perih. Benar apa kataku, aku tidak menghilangkannya
Tapi dia sendiri yang meminjamkannya dia lupa dan menuduhku. Aku makin benci dengan mereka dan aku makin tertutup. Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Perpisahan sekolah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar