Halo namaku Yukina aku biasa
dipanggil Yuki.Kejadian ini berawal sejak aku sedang ingin menjenguk temanku
yang sedang sakit.Saat menyebrang tiba-tiba ada truk berkecepatan tinggi yang
menabrakku.Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.Aku lupa semuanya.Sebenarnya,
aku menderita amnesia, aku tidak tau namaku siapa, tapi kata teman-teman namaku
Yuki dan aku pernah mengalami kecelakaan.Sekarang, aku mengalami buta mata
sebelah kanan.Kini aku hanya tinggal dengan kembaranku saja yang bernama Yukari.Katanya,
Ibu dan ayah meninggal saat kami berumur 10 tahun.Sekarang, aku tidak
bersekolah.Hidup kami berkecukupan, itu karena Yuka yang jenius sudah punya
pekerjaan yaitu wartawan.
“Yuki, ayo kesini aku sudah menyiapkan makanan
kesukaanmu.Itupun kalau kamu masih ingat” Yuka memanggilku
“Baunya sedap sekali!” Jawabku
“Tentu saja. Ini adalah udang tepung saos asam manis!”
“Yuka, kau sangat pandai memasak!” Pujiku
Yuka
berangkat kerja jam 8 pagi.Sementara Yuka kerja, biasanya aku di rumah mengurus
rumah.Aku selalu ingin memberi Yuka kejutan dengan uangku sendiri, tapi
bagaimana lagi, aku tidak bisa bekerja.Biasanya, sepulang Yuka kerja, dia
mengajariku bermain piano.Berkatnya, aku sudah bisa bermain piano dengan
lancar.Setiap hari, aku hanya diam di rumah sambil memainkan piano
kesayanganku.Saat sedang bermain piano tiba-tiba telfon berbunyi.Aku segera
mengangkatnya.
“Halo, Yukina disini”
“Selamat siang, apakah saudari Yukina mempunyai kakak?”
“Ya, kakak saya Yukari, ada apa?”
“Begini, saudari Yukari tertabrak Truk besar saat sedang
membantu seorang nenek menyebrang”
“APA! Baiklah, ini dari rumah sakit apa, saya akan segera
datang”
“Segeralah datang ke Rumah Sakit Cramilson”
Telfon
segera ku tutup.Aku segera memakai jaket dan berlari menuju rumah sakit itu.Sesampainya,
aku segera dituntun menuju ruangan 147.Terlihat Yuka sedang tersenyum kepadaku.
Terlihat sangat lemas.Dokter segera menghampiriku.
“Kami sudah berusaha, dik”
“Maksud anda?”
“Tak lama lagi, saudari Yukari akan meninggalkan dunia
ini”
“Tidak mungkin!”
Air
mataku bercucuran dari mataku.Aku segera menghampiri Yuka.Dia berusaha keras
untuk mengangkat tangannya dan menghapus air mataku.Kupegang tangannya.Terasa
sangat dingin.Muka Yuka sudah sangat pucat, tetapi dia tetap tersenyum.
“Yuki…. Jangan lupakan aku”
“Yuka, apa maksudmu tentu saja aku tidak akan melupakan
Yuka”
“Yuki, aku minta maaf”
“Yuka tidak perlu minta maaf”
“Yuka sudah tidak bisa menemanimu ….”
Kata-kata
Yuka terhenti.Tangannya yang kupegang melemas, matanya menutup perlahan-lahan
dan senyumnya mulai menghilang.Aku tidak percaya ini semua, Yuka telah
meninggalkan dunia ini.Aku tidak akan menangis lagi.Aku tidak mau Yuka sedih,
aku tidak mau Yuka merasa bersalah.Dokter menenangkanku.Aku langsung berjalan
menuju rumah.Sepi, hening, tidak ada lagi canda dan tawa.Aku terpaksa menjalani
hidup sendirian.Esoknya, aku memasak makanan sendiri, hanya telur dan nasi.Aku
mulai mencari kerja.Seharian itu, aku tidak mendapatkan hasil.Setiap hari aku
menawarkan berbagai kemampuanku, tetapi tidak juga berhasil.Lima hari kemudian,
aku diterima di studio Valencia karena bakatku bermain piano.Aku diuji berbagai
macam tes agar aku menjadi pianis terkenal.Sampai pada tes terakhir.Aku disuruh
untuk menandingi Hikawa pianis yang sedang naik daun.Akhirnya, setelah lama
diuji aku bisa menjadi seorang pianis.Aku dikenal semua orang.Kehidupanku
sangat mewah.Aku punya seorang koki rumah dan pembantu.Ini semua berkat Yuka
yang telah mengajariku Piano.Sekarang, yang aku ingin ucapkan hanyalah
“Terimakasih Yuka, tanpamu aku tidak bisa melakukan apapun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar